Neo dan Alvino membuktikan bahwa kemampuan membangun website bukan sekadar keterampilan teknis — ia adalah bahasa baru generasi yang ingin bicara kepada dunia.
JAKARTA, Smata Jaya — Di antara puluhan tim dari berbagai penjuru Indonesia yang datang ke Jakarta dengan ambisi yang sama, dua siswa dari SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur berhasil naik podium.
Neo Tanju Allabib dan Alvino Trisdha Pratama, keduanya masih duduk di kelas XI berhasil meraih Juara 3 Lomba Web Development Tingkat Nasional yang diselenggarakan Universitas Tarumanagara, Jakarta. Sebuah pencapaian yang tidak kecil, mengingat kompetisi itu mempertemukan para pelajar terbaik dari berbagai daerah yang telah lebih dulu mengukur diri di panggung teknologi.
Neo tercatat sebagai siswa kelas XI-7. Alvino dari XI-4. Dua kelas berbeda, satu tujuan yang sama.
Tarumanagara dan Medan yang Tidak Mudah
Universitas Tarumanagara bukan sembarang tuan rumah. Sebagai salah satu universitas swasta tertua dan terkemuka di Indonesia dengan reputasi kuat di bidang teknologi dan desain, kompetisi yang digelarnya menarik peserta dengan kualifikasi yang tidak main-main.
Lomba Web Development di tingkat nasional menuntut lebih dari sekadar kemampuan menulis kode. Ia menguji logika berpikir, estetika visual, kecepatan eksekusi, dan kemampuan dua orang atau lebih untuk bergerak sebagai satu unit yang kohesif di bawah tekanan waktu.
Neo dan Alvino melewati semua itu. Dan pulang dengan medali ketiga. Prestasi semacam ini tidak lahir dari ruang hampa.
Di balik trofi yang dibawa pulang ke Jawa Timur, ada jam-jam latihan yang tidak terlihat di media sosial. Debugging yang melelahkan, desain yang diulang berkali-kali, diskusi panjang tentang bagaimana sebuah antarmuka harus terasa bagi penggunanya.
SMAN 5 Taruna Brawijaya selama ini dikenal menempa siswanya tidak hanya dalam disiplin fisik dan akademik, tetapi juga dalam kemampuan berpikir kritis dan adaptif. Dua kualitas yang, dalam dunia pengembangan web, adalah segalanya.
Neo dan Alvino adalah cerminan dari tempaan itu.
Kelas XI yang Sudah Bicara di Panggung Nasional
Yang menarik dari pencapaian ini adalah usia mereka. Keduanya masih kelas XI, artinya masih ada satu tahun lagi sebelum mereka menamatkan pendidikan menengah. Namun nama mereka sudah tercatat dalam daftar juara kompetisi nasional bergengsi di Jakarta.
Dalam lanskap pendidikan yang kerap mengukur prestasi dari angka rapor semata, Neo dan Alvino menawarkan perspektif berbeda: bahwa kemampuan nyata kadang paling terlihat justru di luar kelas, ketika seseorang harus membuktikan diri di hadapan juri yang tidak mengenal nama mereka, tidak peduli asal sekolah mereka, dan hanya melihat satu hal kualitas karya yang dihasilkan.
Karya mereka bicara cukup keras untuk meraih podium ketiga se-Indonesia.
Satu Podium, Banyak Pesan
Bagi keluarga besar SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur, kabar ini bukan sekadar berita prestasi yang akan segera terlupakan setelah papan pengumuman berganti. Ia adalah penanda bahwa dari sekolah yang terus bertumbuh ini, siswa-siswanya sedang menancapkan jejak di bidang-bidang yang akan menentukan masa depan.
Teknologi. Digital. Web. Dunia yang dalam satu dekade ke depan akan menjadi tulang punggung hampir semua sektor kehidupan.
Neo dan Alvino sudah mulai berjalan ke sana. Lebih awal dari kebanyakan.
Selamat, Neo. Selamat, Alvino. Taruna Brawijaya bangga dan dunia, rupanya, sudah mulai mendengar nama kalian. (*)


Leave a Reply