SMATA JAYA – Kehidupan di sekolah berbasis kesamaptaan lekat dengan kedisiplinan tingkat tinggi, rutinitas fisik yang padat, dan jadwal asrama yang ketat. Di tengah ekosistem yang serba terstruktur inilah, ruang untuk mengembangkan bakat individu dan literasi siswa harus tetap dihidupkan. Kesadaran inilah yang mendorong Adi Siswanto, S.Pd., tenaga pendidik dari SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur, untuk melahirkan sebuah inovasi yang menyegarkan.
Pemikiran kreatif Adi di lingkungan sekolah taruna tersebut baru saja mengantarkannya menorehkan prestasi membanggakan. Ia berhasil dinobatkan sebagai salah satu dari 10 Terbaik dalam ajang bergengsi East Java Islamic Education Symposium (EJIES) 2026, mewakili Satuan Pendidikan Wilayah Kediri.
Pencapaian ini tidak datang secara instan. Adi berhasil memukau dewan juri melalui karya inovatifnya yang bertajuk “Optimalisasi SENSOR sebagai Pengembangan Bakat, Literasi, dan Kesegaran Jasmani Siswa di Sekolah Berasrama”.
Bagi para peserta didik di SMAN 5 Taruna Brawijaya, pembinaan kesegaran jasmani tentu sudah menjadi menu wajib sehari-hari. Namun, melalui pendekatan yang ia sebut ‘SENSOR’, Adi meramu sebuah metode holistik agar ketahanan fisik tersebut berjalan selaras dengan penajaman budaya literasi serta eksplorasi bakat terpendam para taruna.
Inovasi SENSOR seolah menjadi oase di tengah padatnya kurikulum asrama. Pendekatan ini tidak sekadar mengejar target akademik maupun fisik semata, tetapi juga memberikan ruang gerak bagi well-being siswa. Harapannya, metode ini mampu membentuk profil lulusan taruna yang tidak hanya tangguh dan disiplin, tetapi juga kaya akan wawasan, berkarakter, dan kreatif.
Capaian menembus 10 besar EJIES 2026 ini tak pelak mengharumkan nama SMAN 5 Taruna Brawijaya, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa ekosistem pendidikan di Kediri terus bergerak maju berkat guru-guru yang peka terhadap kebutuhan siswanya.
Selamat dan sukses kepada Bapak Adi Siswanto, S.Pd. atas dedikasi dan capaian luar biasa ini. Semoga inovasi SENSOR tidak hanya berhenti sebagai karya di atas kertas kompetisi, namun terus membumi, menginspirasi pendidik lainnya, dan membawa kemajuan yang berkelanjutan bagi dunia pendidikan kita. (*)


Leave a Reply