SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur Borong Medali di Kejuaraan Taekwondo Internasional

4 emas, 6 perak, 4 perunggu. 14 taruna. Tiga hari yang mengubah GOR Jayabaya menjadi panggung pembuktian.

KEDIRI, Smata Jaya — Selama tiga hari, dari 5 hingga 7 Juni 2026, GOR Jayabaya Kediri menjadi arena pertarungan para pejuang muda dari berbagai penjuru. Kejuaraan Internasional Taekwondo Ksatria Nusantara PBTI Series bukan sekadar kompetisi biasa. Kejuaraan ini mempertemukan atlet-atlet pilihan dalam satu gelanggang yang tidak mengenal belas kasihan.

Di antara semua kontingen yang hadir, nama SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur yang akrab disebut SMATA JAYA mencuri perhatian. Bukan dengan satu medali ataupun dengan dua medali. Melainkan dengan empat belas medali.

Empat emas. Enam perak. Empat perunggu.

Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah cerita tentang latihan yang panjang, mental yang ditempa keras, dan sekolah yang memutuskan bahwa prestasi tidak boleh hanya hidup di dalam kelas.

Empat Emas yang Tidak Datang Gratis

Di puncak podium, empat nama SMATA JAYA berdiri dengan medali emas menggantung di leher mereka.

Muhammad Reisya Daffa dari kelas XI-1 membuka catatan emas kontingen. Nafida Muntasya dari XI-2 menyusul membuktikan bahwa di atas matras taekwondo, tidak ada pembeda antara taruna dan taruni ketika keduanya sama-sama datang untuk menang. Dari kelas X, dua nama ikut mengukir sejarah: Alvin Raditya Pratama dari X-1 dan Muhammad Ganesha Wishnu dari X-5.

Empat atlet. Dua angkatan berbeda. Satu warna medali yang sama.

Yang membuat pencapaian ini terasa lebih berat bobotnya adalah fakta bahwa kejuaraan ini berskala internasional. Lawan yang mereka hadapi bukan hanya dari dalam negeri — standar yang harus dipenuhi jauh melampaui batas provinsi atau nasional. Dan keempat taruna serta taruni itu melewatinya.

Enam Perak yang Juga Bercerita

Medali perak bukan medali kalah. Ia adalah bukti bahwa seseorang telah sampai sangat dekat ke puncak cukup dekat untuk merasakan udaranya, meski belum berdiri tepat di atasnya.

Enam nama SMATA JAYA membawa pulang perak dari Kejuaraan Ksatria Nusantara ini.

Dari angkatan XI: Egi Aulia Winata Wardania (XI-2), Biru Lacosean Najwa (XI-4), dan Alfino Kongga Praja (XI-7). Dari angkatan X yang masih dalam tahun pertama mereka di sekolah ini: Rasya Ahmad Ramadhan (X-4), Argani Athallah Bisma (X-5), dan Rafa Dwi Anugerah Imron (X-8).

Enam perak dari dua angkatan yang berbeda mengirimkan pesan yang jelas bahwa regenerasi di SMATA JAYA bukan sekadar wacana. Ia sedang berjalan, dan hasilnya sudah mulai terlihat di atas matras.

Perunggu yang Melengkapi Kanvas

Empat medali perunggu menyempurnakan catatan kontingen SMATA JAYA di kejuaraan ini.

Muhammad Rizky Riyaldo dan Aurora Marva Callista dari XI-1 dan XI-8 membawa pulang perunggu dari kelas senior. Giovani Anggasta dari XI-6 melengkapi barisan. Dari kelas X, Daffa Raqilla Sugiono dari X-1 membuktikan bahwa usia bukan hambatan untuk bicara di level internasional.

Perunggu, dalam konteks kejuaraan internasional, adalah pencapaian yang tidak bisa diremehkan. Ia berarti seseorang telah melewati banyak lawan, banyak ronde, dan banyak tekanan — sebelum akhirnya berdiri di antara tiga terbaik di kategorinya.

Catatan untuk yang Akan Datang

Empat belas medali dari satu sekolah dalam satu kejuaraan internasional adalah angka yang tidak datang dari keberuntungan. Ia datang dari sistem — sistem pembinaan yang konsisten, kultur yang menghargai kerja keras, dan siswa-siswa yang memilih untuk tidak berhenti ketika latihan terasa berat.

SMATA JAYA, dengan catatan ini, menegaskan posisinya bukan hanya sebagai sekolah yang mencetak siswa berprestasi di bidang akademik, tetapi juga sebagai lembaga yang melahirkan atlet bermental juara.

Bagi empat belas nama yang hari ini berdiri di podium, ini bukan akhir dari perjalanan. Ini adalah penanda bahwa mereka sudah tahu rasa kemenangan dan tidak akan mudah puas dengan yang kurang dari itu.

Selamat, para Taruna dan Taruni SMATAJAYA. GOR Jayabaya menjadi saksi. Kediri menjadi saksi. Dan nama kalian kini tercatat dalam sejarah kejuaraan internasional yang tidak akan terhapus begitu saja. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *